Jilbab – Hijab

Sejarah Jibab - Hijab di Indonesia

Di beberapa daerah yang menggunakan bahasa arab, hijab sering juga diartikan sebagai kerudung atau penutup kepala yang digunakan oleh perempuan muslim.

Dalam etimologi bahasa arab, hijab dapat diartikan sebagai “penghalang”.

Namun jika dilihat pada ilmu islam secara mendalam, Hijab dapat diartikan atau ditujukan sebagai tatacara berpakaian yang pantas sesuan dengan tuntunan agama.

Di dalam kamus Al Muhith disebutkan bahwa jilbab adalah pakaian lebar yang longgar untuk wanita dan dapat menutup aurat atau pakaian sehari-hari (tsaub), yang ia pakai saat hendak keluar rumah.

Hukum
di dalam alquran Ada 2 dasar hukum yang mewajibkan wanita muslim harus menggunakan hijab :

Al Ahzab – 59 :

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

An Nur – 31 :

“…dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…”

Kriteria Jilbab
Menurut Muhammad Nashiruddin Al Albany dalam Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah, Kriteria Jilbab haruslah memenuhi hal-hal seperti dibawah ini :

1. Hendaklah menutup seluruh badan, kecuali wajah dan dua telapak,
2. Jilbab bukan merupakan perhiasan,
3. Tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh,
4. Tidak disemprot parfum,
5. Tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan
6. Bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas diri.

Pendapat yang sama sebagaimana dituturkan Ikrimah: Jilbab itu menutup bagian leher dan mengulur ke bawah menutupi tubuhnya, sementara bagian di atasnya ditutup dengan khimâr (kerudung) yang juga diwajibkan, sesuai dengan salah satu ayat surah An-Nur 24:31, yang berbunyi:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita… “(QS an-Nur [24]: 31)